Powered By Blogger

Selasa, 10 April 2012

Kenaikan BBM, “bakar kami saja pak!”


 www.gunadarma.com

Nama  : Mikhael Kristian, NPM   : 24210401, Kelas  : 2EB20 

‘Bom waktu’ yang dibuat pemerintah sejak sebulan lalu direncanakan akan meledak pada 1 April 2012 mendatang. Isu kenaikan BBM yang sudah menuai kontra dari beberapa ormas hingga Mahasiswa seluruh Universitas di Indonesia menjadi hotnews dibeberapa media. Belum usai demo dan protes yang terus bergulir atas rencana tersebut, isu-isu atas kenaikan berbagai harga terus bermuculan. Bagaikan bola salju, isu kenaikan harga-harga ini terus menggelinding, tidak bisa dibendung, semakin membesar dan mengakibatkan keresahan yang semakin menjadi-jadi bagi rakyat Indonesia. “BBM naik, harga pokok tidak akan naik” begitu lontaran dari salah satu pejabat tinggi Indonesia yang menjadi hotline media cetak Sumatera Express. Apakah pemerintah dapat menjamin harga-harga pokok di Indonesia tidak akan naik? Ambil contoh saja pedagang keliling yang menjual durian dengan harga 5.000/buah, harga tersebut akan berubah apabila kita berjalan sejauh 40km dari tempat semula. Harga dapat saja berubah menjadi 7.000 - 15.000 per buah nya.
Penggunaan BBM terbesar berasal dari transportasi (68%). Secara otomatis kenaikan tersebut berimbas kepada pemilik kendaraan umum (angkot, bis kota, dll) untuk menaikkan tarif jalan. Hampir seluruh transaksi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia melibatkan alat transportasi berbahan bakar minyak. Dengan kenaikan harga BBM, maka dengan sendirinya kebutuhan pokok akan ikut naik. Ketika bahan pokok naik, maka kenaikan ini juga akan berimbas pada kenaikan jumlah warga miskin di Indonesia. Kenaikan BBM yang tidak diimbangi dengan kenaikan gaji menjadi salah satu pemicu meningkatnya pengeluaran bulanan keluarga. Kenaikan BBM sudah cukup jelas merugikan dari sektor ekonomi mikronya.
Efek dari rencana kenaikan harga BBM ini menyebar ke seluruh sektor kehidupan dan berdampak sistemik. Lebih lagi, yang paling terkena imbas adalah sektor ekonomi, sosial dan budaya, baik ekonomi makro maupun ekonomi mikro yang sektoral. Efek rencana kenaikan BBM terhadap sektor ekonomi makro akan dirasakan dengan meningkatnya inflasi.
“Jika rencana kenaikan BBM 1 April mendatang disahkan, maka inflasi per April 2012 ini akan mencapai angka 7,1 bahkan 7,8%. Padahal menurut data Bank Indonesia, inflasi pada Februari 2012 lalu hanya mencapai 3,56%.” kata Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution
Artinya, kenaikan BBM ini akan menaikkan angka inflasi mencapai lebih dari 4% atau dua kali lipat dari angka inflasi sebelumnya.
Kenaikan inflasi ini pun pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Berkaca pada kenaikan BBM tahun 2005 lalu, peningkatan inflasi akibat kenaikan harga BBM membuat GDP riil Indonesia hanya mengalami sedikit kenaikan dari sebelumnya 0,041 menjadi hanya 0,051. Penyebabnya adalah karena daya jangkau ekonomi masyarakat, semakin rendah dan terlihat dari penurunan jumlah konsumsi rumah tangga. Kemungkinan besar, hal serupa yang terjadi pada 2005 akan kembali dirasakan pada tahun ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar